Reportase Webinar Paliatif Seri 7: Asuhan Keperawatan dalam Perawatan Paliatif

Reportase Kegiatan

PKMK – Yogya. Alumni angkatan 80 FK UGM bekerjasama dengan Rumah Sakit Akademik (RSA) UGM, Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr. Sardjito, dan Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) FK – KMK UGM menyelenggarakan webinar Perawatan Paliatif tahap 3 seri 7 yang mengangkat topik Asuhan Keperawatan dalam Perawatan Paliatif pada Sabtu (17/9/2022). Webinar ini bertujuan untuk membahas mengenai peranan perawat dalam perawatan paliatif, bagaimana proses asuhan keperawatan bagi pasien paliatif, dan secara spesifik akan membahas tentang prinsip perawatan luka dan stoma yang banyak dijumpai pada pasien paliatif. Webinar dimoderatori oleh Dr. dr. Darwito S.H., Sp.B (K) Onk.

Peranan Perawat dalam Perawatan Paliatif

Pada sesi pertama, Dr. Sri Setyarini, S.Kp, M.Kes menyampaikan mengenai peran perawat dalam perawatan paliatif. Keperawatan paliatif mencakup proses pengkajian, diagnosis, dan pemberian respon secara humanitas kepada pasien-pasien yang terancam nyawanya. Perawatan paliatif memerlukan hubungan yang dinamis dengan pasien dan keluarga pasien, untuk mengurangi penderitaan dengan tujuan meningkatkan kualitas hidup pasien. Di luar negeri, perawat paliatif dibedakan menjadi registered nurse (RN) dan advanced practice registered nurses (APRN’s) yang memiliki lebih banyak wewenang atau setara dengan perawat spesialis. Sayangnya, di Indonesia hingga saat ini belum tersedia program pendidikan khusus untuk perawat spesialis paliatif.

Berbicara tentang peran perawat dalam perawatan paliatif, Sri menjelaskan bahwa secara spesifik perawat berperan sebagai edukator, konselor, komunikator, pemberi layanan keperawatan, dan advokat. Sebagai edukator, perawat berwenang untuk memberikan edukasi tentang karakteristik dan nilai-nilai perawatan paliatif pada pasien dan keluarganya. Perawat juga perlu mengajarkan pasien untuk mampu mengidentifikasi kebutuhan dirinya sendiri, menjelaskan rencana keperawatan, serta mengedukasi keluarga pasien mengenai bagaimana memberikan perawatan yang sesuai untuk anggota keluarganya yang sakit. Sebagai konselor, perawat berwenang untuk mengidentifikasi apakah pasien memiliki distress serta memberikan dukungan emosional bagi pasien. Sebagai komunikator, perawat harus mampu berkomunikasi dengan baik agar terbangun hubungan yang nyaman dengan pasien. Saat berkomunikasi atau memberikan arahan kepada pasien, perawat perlu menerapkan prinsip by asking, by listening, and by guiding. Sebagai pemberi layanan keperawatan, perawat harus mampu melakukan asuhan keperawatan dasar dengan tetap menjaga martabat pasien dan keluarganya. Terakhir, perawat sebagai advokat harus mampu mengadvokasi pasien untuk dapat bekerja sama, memberikan informasi yang akurat pada pasien dan keluarganya mengenai perawatan paliatif, serta memastikan mereka memahaminya dengan baik.

Selain peran spesifik, perawat sebagai penyedia layanan kesehatan harus selalu ada dan siap untuk memberikan perawatan yang optimal dan komprehensif, menjadi koordinator dalam memberikan layanan, memberikan apa yang dibutuhkan pasien, hadir dengan penuh perhatian dan berdedikasi, mendukung aspek spiritual pasien, serta harus mampu bertahan dalam beragam situasi yang sulit.

Asuhan Keperawatan dalam Perawatan Paliatif

Di sesi kedua, Ns. Ame, S.Kep, M.Kep, SpOnk menyampaikan mengenai asuhan keperawatan dalam perawatan paliatif. Pada prinsipnya, perawat harus mampu bekerja secara profesional, yakni mengedepankan skill, kompetensi, dan attitude dalam memberikan pelayanan bagi pasien. Diharapkan dengan bekerja secara profesional dengan hati dan iman, perawat dapat membantu meningkatkan kualitas hidup pasien, baik pada aspek fisik dan psikologis. Untuk mencapai hal tesebut, perawat paliatif harus memiliki sifat komunikatif, jujur, memiliki empati yang tinggi, mencintai pekerjaannya, mampu mendengarkan dan merespon rasa takut pasien, serta mampu merespon kekhawatiran keluarga pasien.

Asuhan keperawatan paliatif berbeda dengan asuhan keperawatan untuk pasien umum, karena perawat paliatif harus mampu mengeksplorasi dan menangani berbagai masalah selain masalah fisik pasien. Secara umum, asuhan keperawatan terdiri dari 5 proses, yaitu pengkajian, diagnosis, intervensi, implementasi, dan evaluasi. Dalam perawatan paliatif, ada 4 (empat) domain yang perlu dikaji secara tepat dan komprehensif, yang meliputi kesejahteraan fisik, sosial, psikologis, dan spiritual pasien. Setelah pengkajian, asuhan keperawatan selanjutnya adalah diagnosis yang merujuk kepada Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia (SDKI), dan dilanjutkan dengan proses intervensi. Intervensi perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan kenyamanan pasien, sehingga dalam perawatan paliatif, pasien merupakan “tim” yang perlu dilibatkan dalam pengambilan keputusan dan tindakan apapun. Proses asuhan keperawatan selanjutnya adalah implementasi, yang terdiri dari implementasi fisik (manajemen gejala) dan implementasi psiko-sosio-spiritual. Poin terakhir dan tak kalah penting adalah proses evaluasi, dengan merujuk kepada Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI), untuk mengetahui apakah masalah pasien sudah tertatalaksana dengan baik atau tidak.

Manajemen Perawatan Luka dan Stoma pada Pasien Paliatif

Pada sesi terakhir, Dr. Kemala Rita Wahidi, SKp., Sp.Kep.Onk., ETN., MARS., FISQua membahas mengenai manajemen perawatan luka dan stoma. Seperti yang kita ketahui, salah satu permasalahan utama pada pasien paliatif adalah luka karena kanker dan kantong stoma. Luka kanker sebagian besar tidak bisa sembuh dengan sempurna, namun yang bisa dilakukan oleh perawat adalah meningkatkan kualitas hidup pasien dengan menangani permasalahan fisik dan permasalahan psiko-sosio-spiritual. Dalam kasus ini, perawat berperan dalam membantu pasien beradaptasi dengan lukanya serta membimbing pasien agar mampu merawat lukanya sendiri, sehingga ia dapat beraktivitas dengan normal dan tidak merasa minder dengan luka tersebut. Oleh karena itu, manajemen perawatan luka kanker harus bersifat komprehensif mulai dari pengkajian, intervensi, hingga evaluasi dengan menerapkan prinsip-prinsip berikut:

  1. Mencegah dan mengontrol perdarahan
  2. Mengurangi atau menghilangkan malodor (bau tidak sedap akibat bakteri)
  3. Mengatasi cairan pada luka
  4. Mengatasi nyeri
  5. Menangani infeksi agar tidak meluas
  6. Mengedepankan estetika saat pemberian tindakan
  7. Penatalaksanaan aspek psiko-sosio-spiritual, misalnya dengan memfasilitasi tindakan koping yang positif.

Terkait manajemen perawatan stoma, Kemala menuturkan bahwa komplikasi stoma dapat dicegah sejak awal dengan persiapan pre-operasi stoma (stoma siting) yang baik. Karena itu, perawatan stoma harus dilakukan oleh perawat yang kompeten dalam melakukan fitting kantong, memilih kantong yang tepat, serta memilih produk aksesoris stoma sesuai kebutuhan pasien. Perawat juga perlu memberikan edukasi mengenai cara perawatan stoma yang benar, tanda-tanda komplikasi stoma, serta dukungan psikologis kepada pasien dan keluarganya. Kemudian, untuk mengurangi risiko komplikasi stoma, diperlukan juga kolaborasi interprofesional, misalnya dengan dokter bedah serta ahli gizi terkait pemberian intervensi diet yang tepat pada pasien dengan stoma. Materi Kegiatan selahkan KLIK DISINI

Reporter: Salwa Kamilia Cahyaning Hidayat, S.Gz


Video Rekaman

Leave a Reply

Your email address will not be published.