How Patients with Advanced Cancer Experience Opioid Stigma

Artikel Berita

Penelitian baru menyoroti bagaimana stigma seputar resep opioid bermanifestasi pada pasien kanker stadium lanjut dan menyoroti strategi koping yang digunakan pasien untuk mengurangi kegelisahan mereka. Dalam wawancara dengan pasien kanker stadium lanjut dan anggota keluarga mereka, tiga tema utama muncul: pengalaman langsung dengan stigma opioid dan diskriminasi dalam konteks perawatan kesehatan; stigma yang diantisipasi pasien; dan rasa bersalah seputar penggunaan opioid serta perilaku membatasi opioid. Secara keseluruhan, “stigma opioid dan dampaknya, termasuk rasa sakit yang tidak tertangani, berpotensi merusak kesehatan dan kesejahteraan pasien kanker,” penulis utama Hailey W. Bulls, PhD, dari University of Pittsburgh, Pennsylvania, dan rekan – rekannya menulis. Laporan tersebut dipublikasikan secara online pada 25 Juli di JCO Oncology Practice. Opioid sering diresepkan untuk mengobati nyeri kanker, tetapi upaya untuk membatasi epidemi opioid dapat menyebabkan sikap negatif seputar obat ini dan mempersulit upaya untuk memberikan manajemen nyeri kanker yang efektif. Menilik lebih dalam pada stigma opioid, para peneliti mewawancarai 20 pasien kanker stadium lanjut serta 11 anggota keluarga dan teman dekat mereka. Salah satu tema yang penulis temukan melibatkan pengalaman langsung pasien dengan stigma dan diskriminasi. Secara keseluruhan, pasien merasa nyaman berbicara dengan ahli onkologi mereka tentang penggunaan opioid untuk manajemen nyeri, tetapi beberapa diantaranya melaporkan pengalaman stigmatisasi dalam pengaturan perawatan kesehatan lainnya, seperti di klinik nyeri atau apotek. Dalam situasi ini, pasien sering merasa diperlakukan seperti pengguna narkoba, dan beberapa memutuskan untuk mengganti penyedia layanan, beralih apotek, atau mengirim anggota keluarga untuk mengambil resep obat-obatan mereka.

Tema lain yang muncul adalah stigma yang diantisipasi, dimana peserta mengungkapkan keprihatinan tentang stigma yang terjadi di masa depan, bahkan jika mereka tidak mengalaminya secara langsung. Pasien – pasien ini sering khawatir tentang pandangan dokter mereka tentang diri mereka, dan tidak ingin terlihat mencari lebih banyak obat, para penulis melaporkan. Di luar lingkup perawatan kesehatan, peserta umumnya merasa mereka mendapat dukungan kuat dari keluarga dan orang yang dicintai untuk mengambil resep opioid untuk memerangi nyeri kanker stadium lanjut. Namun, penulis menemukan bahwa beberapa pasien khawatir dukungan ini akan berubah di masa depan, terutama jika mereka terus membutuhkan opioid untuk waktu yang lama. Terakhir, beberapa pasien menunjukkan sikap dan perilaku pembatasan opioid yang mungkin mencerminkan stigma yang terinternalisasi dan ketakutan akan kecanduan. Terlepas dari persepsi umum bahwa penggunaan resep opioid sesuai untuk nyeri kanker, beberapa pasien ingin mengurangi atau berusaha meminimalkan penggunaan obat mereka. Sementara yang lain merasa mereka seharusnya bisa berhenti begitu saja.

Partisipan juga menunjukkan bahwa stigma seputar opioid membuat mereka merasa bersalah mengkonsumsi opioid, terutama saat mengisi resep di apotek. Para penulis mencatat beberapa keterbatasan penelitian, termasuk fakta bahwa ada sedikit keragaman ras dan etnis di antara peserta yang sebagian besar adalah orang-orang kulit putih non-Hispanik yang tinggal di daerah perkotaan. Namun, wawancara ini dapat meningkatkan kesadaran akan stigma opioid dan membantu memastikan pasien kanker stadium lanjut menerima perawatan yang tepat untuk rasa sakit mereka, tulis para peneliti. Dampak yang mungkin terjadi akibat penanganan nyeri yang buruk antara lain tidak optimalnya preskripsi opioid yang diberikan, isolasi sosial, tekanan emosional, dan penurunan kualitas hidup. “Mengingat banyaknya konsekuensinya, maka penting untuk mengembangkan strategi untuk mengurangi stigma opioid pada pasien dengan nyeri kanker,” tambah mereka.

Penerjemah: Salwa Kamilia Cahyaning Hidayat, S.Gz
Penulis: Megan Brooks
Sumber: https://www.medscape.com

Leave a Reply

Your email address will not be published.