Reportase Webinar Paliatif Seri 6: Tatalaksana Nyeri dan Sesak Napas dalam Perawatan Paliatif: Bagaimana Peran Opioid?

Reportase Kegiatan

PKMKYogya. Alumni angkatan 80 FK UGM bekerjasama dengan Rumah Sakit Akademik (RSA) UGM, Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr. Sardjito, dan Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) FK – KMK UGM menyelenggarakan webinar Perawatan Paliatif tahap 3 seri 6 yang bertajuk “Tata Laksana Nyeri dan Sesak Napas dalam Perawatan Paliatif: Bagaimana Peran Opioid?” pada Sabtu (13/8/2022). Seperti yang kita ketahui, nyeri adalah gejala yang paling banyak ditemukan dalam perawatan paliatif dan opioid merupakan salah satu obat yang dibutuhkan dalam tatalaksana nyeri berat. Sayangnya, masih banyak tenaga medis yang kurang memahami tentang opioid. Webinar ini bertujuan untuk membahas mengenai patofisiologi nyeri dan penilaian nyeri, tatalaksana nyeri dalam perawatan paliatif, dan penggunaan opioid dalam tatalaksana nyeri. Webinar dimoderatori oleh Dr. dr. Maria. A. Witjaksono, MPALLC.

Patofisiologi Nyeri dan Assessment Nyeri

Materi pertama disampaikan oleh Dr. dr. Sudadi, Sp.An-KNA, KAR yang membahas nyeri pada penyakit kanker. Rasa sakit adalah gejala yang paling ditakuti oleh pasien kanker. Bahkan menurut penelitian, 69% pasien nyeri kanker berat mempertimbangkan untuk bunuh diri. Namun sejatinya, nyeri kanker bukan hanya disebabkan oleh satu hal saja, melainkan juga kombinasi multifaktor yang sangat kompleks atau dikenal dengan “total pain”. Konsep total pain merupakan gabungan dari faktor fisik, sosial, psikologis, dan spiritual. Oleh karena itu diperlukan pendekatan yang bersifat komprehensif dan multidisiplin untuk menangani nyeri kanker secara tuntas.

Menurut Sudadi, agar kita dapat memberikan penanganan yang baik kepada pasien, maka kita perlu memahami jenis nyeri yang menyertai penderita kanker. Ada empat jenis nyeri kanker yaitu nociceptive pain yang disebabkan karena kerusakan jaringan, neurophatic pain yang disebabkan kerusakan saraf, mixed pain yang merupakan gabungan dari nociceptive pain dan neurophatic pain, serta episodic pain yang terjadi akibat pengobatan jangka panjang. Asesmen nyeri perlu dilakukan secara cermat untuk mengidentifikasi jenis (kualitas nyeri) dan intensitas (kuantitas nyeri) yang dirasakan oleh pasien, sebelum memberikan treatment kepada pasien.

Pain Management in Palliative Care

Di sesi kedua, Dr. dr. Wiwiek Indriyani Maskoep, Sp.PD, FINASIM menyampaikan tatalaksana nyeri pada perawatan paliatif. Nyeri dapat ditangani dengan baik jika asesmen dilakukan dengan benar. Oleh karena itu, anamnesis harus dilakukan dengan teliti dan lengkap, mulai dari anamnesis fisik hingga pemeriksaan status psikologis pasien. Tujuan utama terapi nyeri untuk menghilangkan nyeri, mencegah timbulnya nyeri berikutnya, dan meningkatkan kualitas hidup pasien. Untuk mencapai tujuan tersebut, maka diperlukan suatu terapi yang bersifat holistik dengan pendekatan interdisiplin, multiprofesional, dan multimodalitas. Terapi nyeri dibagi dua, yaitu terapi farmakologis berupa analgesik yang diberikan berdasarkan tingkatan rasa nyeri, dan terapi non-farmakologis berupa penanganan masalah psikologis, sosial, kultural, dan spiritual; terapi keluhan selain nyeri; terapi fisik seperti bedah dan akupuntur; serta terapi komplementer.

Sebagai penutup, Wiwiek menyampaikan bahwa dengan adanya diagnosis kanker dan diagnosis nyeri yang tepat, maka terapi kanker dan gejala nyeri dapat dilakukan dengan benar. Hal ini akan berdampak pada penurunan nyeri, perbaikan fungsi tubuh, perbaikan status psikologis, serta perbaikan fungsi sosial dan spiritual, sehingga peningkatan kualitas hidup pasien dapat tercapai.

Penggunaan Opioid dalam Tatalaksana Nyeri Pasien Paliatif

Faktanya, sebagian besar pasien kanker stadium lanjut sering mengeluhkan nyeri sedang hingga berat sehingga dibutuhkan opioid kuat. Sebagai analgesik, opioid memiliki keunggulan diantaranya sangat jarang menimbulkan adiksi, relatif aman, dan tidak memiliki “ceiling effect”. Namun diperlukan pengetahuan dan pengalaman yang cukup dalam penggunaan opioid dalam tata laksana nyeri karena setiap pasien menunjukkan respon dan efek samping yang berbeda-beda.

Morfin adalah jenis opioid dengan sediaan paling lengkap dan terdistribusi secara merata di Indonesia, sehingga morfin merupakan pilihan utama untuk penanganan nyeri sedang dan berat. Selain itu, morfin memiliki keamanan yang baik, rute pemberian yang beragam, serta dapat digunakan untuk hampir semua jenis nyeri. Oleh karenanya, tenaga medis harus mampu mengetahui cara kerja morfin serta melakukan inisiasi dan maintenance dosisnya. Menurut dr. Yuddi Gumara, Sp.An, berikut langkah – langkah yang perlu diperhatikan dalam memulai penggunaan opioid kuat:

  1. Mulai dengan dosis rendah
  2. Lakukan titrasi secara cepat
  3. Atasi breakthrough pain
  4. Evaluasi efektivitas dan efek samping (seperti konstipasi, mual, muntah, dan pruritus)
  5. Lakukan rotasi jika diperlukan
  6. Atasi efek samping yang mungkin terjadi

Breathlessness and the Role of Opioid in Its Management

Materi terakhir dibawakan oleh narasumber spesial yaitu Ramaswamy Akhileswaran, MBBS, MD, FAMS (Pall.Med), Dipl. Palliative Med, PGDGM, MBA. Menurut data, sesak napas (dyspnea) merupakan salah satu dari gejala yang paling umum terjadi pada pasien kanker, dimana 10-70% pasien kanker stadium lanjut mengalami dyspnea yang biasanya terjadi bersamaan dengan gejala – gejala lainnya. Dyspnea juga akan memicu timbulnya kecemasan yang kemudian dapat berkembang menjadi depresi sehingga menurunkan kualitas hidup pasien.

Tata laksana dyspnea pada perawatan paliatif bersifat komprehensif dan perlu memperhatikan banyak aspek, termasuk memberikan dukungan dan meyakinkan pasien serta keluarga pasien bahwa gejala tersebut bisa diatasi. Berbagai tindakan sederhana dapat menjadi sangat bermanfaat untuk mengatasi gejala, seperti melatih teknik pernapasan diafragma dan pursed lip breathing yang dapat membantu mengurangi kecemasan pasien. Terkait penggunaan opioid dalam tata laksana dyspnea, dr. Akhileswaran menjelaskan bahwa opioid bisa digunakan ketika intervensi lain yang telah diberikan tidak menunjukkan manfaat. Pemberian opioid bisa dimulai dengan dosis rendah sesuai prinsip “start low, go slow”. (Reporter: Salwa Kamilia Cahyaning Hidayat (PKMK UGM).)

Materi kegiatan silahkan Klik DISINI


Video Rekaman

Leave a Reply

Your email address will not be published.