Webinar 3: Hukum, Etika, Multidisiplin Tim & Komunikasi dalam Perawatan Paliatif

Agenda Berlalu Webinar Series Webinar Tahap 2

Kerangka Acuan Kegiatan
Webinar Series Perawatan Paliatif
RS AKADEMIK UGM, PKMK FK – KMK UGM, ALUMNI FK UGM ANGKATAN 80

Tahap 2: Etika Paliatif dan Komunikasi

Hukum, Etika, Multidisiplin Tim & Komunikasi dalam Perawatan Paliatif

14 Mei 2022


LATAR BELAKANG

Angka harapan hidup di Indonesia meningkat dengan layanan kesehatan yang lebih baik. Namun hal ini menyebabkan peningkatan jumlah pasien dengan penyakit tidak menular yang bersifat kronis dan tidak dapat disembuhkan seperti kanker, gagal organ dan penyakit degeneratif.  Prevalensi penyakit kanker misalnya, telah meningkat di Indonesia, dari 1.4% pada 2012 menjadi 1.79% pada 2018.   Permasalahan penyakit kanker di Indonesia makin bertambah, karena sebagian besar ditemukan dalam stadium lanjut.  Data dari RS Kanker Dharmais menunjukkan 63% kanker berada dalam stadium paliatif, yang memerlukan pengobatan yang bertujuan untuk memperpanjang harapan hidup, bukan menyembuhkan.  Sebagian besar pasien kanker akan masuk dalam stadium terminal, yaitu suatu periode progresifitas penyakit yang tidak dapat dihentikan dengan modalitas apapun, dan membawa kepada kematian. Di Indonesia, kanker merupakan penyebab kematian ke-4 setelah stroke, hipertensi, dan diabetes.

Seperti di Negara – negara dengan pendapatan rendah dan menegah lainnya, penyakit tidak menular menimbulkan beban bagi negara. Di Indonesia, penyakit kanker memberikan beban pembiayaan yang sangat besar bagi pemerintah dan masyarakat. Data Badan Pengelola Jaminan Sosial (BPJS) tahun 2014 menunjukkan pengeluaran dana untuk pasien kanker sebesar 2,5 trilliun rupiah dan merupakan terbanyak ke-3 setelah penyakit jantung dan gagal ginjal.

Penyakit  kronis, menimbulkan gejala fisik, gangguan psikologis, kesulitan sosial, dan masalah spiritual yang berat selama menjalani pengobatan sehingga memberikan dampak negatif terhadap kualitas hidup, biaya pengobatan dan bahkan harapan hidup. Menurut Lamont dkk Pasien memerlukan tatalaksana yang tidak bersifat disease-centered, namun yang berdasar prinsip patient’s-centered dan layanan yang bersifat patient and family-centered care.

Tata laksana pasien stadium terminal adalah salah satu indikator kualitas layanan pasien dengan penyakit kronis seperti kanker. Namun stadium terminal sering tidak terdiagnosis, sehingga  tidak mendapat tatalaksana sebagaimana mestinya. Sebaliknya, mendapatkan intervensi yang dirancang untuk mencapai kesembuhan.  Tindakan medis standar atau pengobatan agresif, pada pasien stadium terminal bisa bersifat iatrogenic dan akan menjadi  sia – sia dan tidak efisien. Tata laksana stadium terminal yang adekuat berfokus pada kualitas sisa hidup, kenyamanan, dan penghindaran tindakan sia – sia atau intervensi invasif yang menghalangi kematian yang tenang, damai, dan bermartabat.

Apa yang Dimaksud dengan Perawatan Paliatif?

Perawatan paliatif adalah suatu pendekatan yang ditujukan bagi pasien dnegan penyakit yang dapat mengancam jiwa yang bertujuan untuk memperbaiki kualitas hidup pasien dan keluarganya yang mengalami masalah yang berhubungan dengan penyakit yang dapat mengancam jiwa melalui pencegahan dan mengurangi penderitaan melalui deteksi dini dan asesmen yang seksama serta pengobatan nyeri dan masalah lain baik fisik, psikologis, dan spiritual (WHO, 2002).  Perawatan paliatif dilakukan oleh tim multidisiplin yang bekerja secara interdisiplin untuk mencapai tujuan tatalaksana yang ditentukan bersama.

Integrasi perawatan paliatif pada penyakit yang dapat mengancam jiwa misalnya di bidang onkologi memberikan banyak manfaat bukan hanya bagi pasien tetapi bagi keluarga dan layanan kesehatan, termasuk dalam hal pembiayaan. Namun di Indonesia sampai saat ini belum berjalan dengan baik.  Pada 2018, program Improving Access to Cancer Clinical Trial (ImPACT) melaporkan bahwa dari pasien yang memerlukan perawatan paliatif di Indonesia, baru 1% yang mendapatkan layanan.

Pengembangan layanan kesehatan yang komprehensif memerlukan tidak hanya pengobatan yang bersifat kuratif tetapi juga perawatan paliatif.  Perawatan paliatif di Indonesia ditujukan terutama bagi pasien stadium terminal, yang diatur melalui Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 812/Menkes/SK/VII/2007.  SK tersebut menyebutkan bahwa dalam rangka meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan bagi pasien dengan penyakit yang belum dapat disembuhkan, selain dengan perawatan kuratif dan rehabilitatif juga diperlukan perawatan paliatif.

Di samping mendapatkan tatalaksana konvensional untuk mencapai tujuan pengobatan, pasien dengan penyakit yang memiliki harapan hidup terbatas harus mendapatkan kesempatan memperoleh perawatan paliatif yang berkualitas sepanjang perjalanan penyakit untuk meningkatkan kualitas hidup dan mengurangi beban keluarga serta mencapai efisiensi layanan kesehatan.  Pengembangan perawatan paliatif memerlukan kebijakan pemerintah, tenaga kesehatan yang memiliki pengetahuan serta keterampilan tentang perawatan paliatif, masyarakat yang sadar akan kebutuhan dan terlibat dalam perawatan paliatif serta ketersediaan obat – obat yang diperlukan.

Kebijakan pemerintah, dukungan telemedicine dan pendanaan yang tepat, pengembangan RS Akademik sebagai puasat layanan dan pendidikan paliatif, penelitian, pendidikan professional paliatif, serta prinsip -prinsip dasar perawatan paliatif akan menjadi dasar implementasi perawatan paliatif di semua jenjang layanan kesehatan. Dengan memperhatikan budaya setempat sehingga dapat diterima masyarakat dan mampu menopang tercapainya layanan kesehatan yang efektif dan efisien.  Aspek – aspek di atas telah dibahas dalam webinar 1 dan 2.

Etika, dan hukum adalah landasan yang perlu dipahami secara mendalam bagi pelaku dan penyelenggara perawatan paliatif. Selanjutnya, bagaimana perawatan paliatif dapat diintegrasikan dalam tata laksana penyakit melengkapi program promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif, rujukan yang tepat dan peranan masing masing professional yang terlibat perlu dimengerti, sehingga tercipta sistem layanan yang efektif dan efisien.  Selain itu, perawatan paliatif memerlukan tim multidisiplin dari lintas profesi yang bekerjasama secara interdisiplin agar tujuan memperbaiki kualitas hidup pasien, mengurangi beban keluarga dan mengupayakan akhir kehidupan yang bermartabat dapat tercapai.

Komunikasi adalah kunci sukses dalam pelayanan perawatan paliatif. Pola komunikasi dan pengambilan keputusan sesuai budaya Indonesia akan menjadi hal penting, agar prinsip otonomi dalam perawatan palaitif dapat diselaraskan.  Komunikasi secara spesifik pada pasien anak, terutama anak dengan kanker perlu dipahami agar keinginan, harapan, dan kekhawatiran mereka dapat dipahami dan diberikan dukungan sesuai kebutuhan. Akhirnya aspek komunikasi yang paling penting dan  tidak mudah yaitu ”breaking the bad news” memerlukan pengetahuan dan ketrampilan yang terus harus diasah sehingga tujuan layanan paliatif dapat tercapai.


TUJUAN WEBINAR

Umum:

Memberikan pengetahuan tentang etika dan hukum, peran professional dalam kerjasama antar tim dan dalam tim, dan komunikasi efektif dalam perawtan paliatif

Khusus:

  1. Memahami tentang hukum kesehatan dan etika yang berlaku di Indonesia
  2. Memahami pentingnya kerjasama antar tim dalam mengintegrasikan perawatan paliatif pada tatalaksana kanker, kapan pasien memerlukan perawatan paliatif dan peran masing masing tim dalam konsultasi, merawat bersama atau alih rawat
  3. Memahami cara kerja dan peran masing masing anggota tim paliatif yang bersifat multidisiplin dan bekerja secara interdisiplin

BENTUK KEGIATAN:

  1. Seminar daring pada hari Sabtu, tanggal 14 Mei 2022
  2. Diselenggarakan oleh Alumni FK UGM Angkatan 1980 bekerjasama dengan PKMK dan RSA UGM

NARASUMBER

  1. Dr. dr. Darwito, SH, Sp.B (K) Onk (Direktur utama RSA UGM)
  2. Prof. Dr. dr. Aru W. Sudoyo, Sp PD-KHOM, FINASIM (Ketua Pusat Perhimpunan Onkologi Indonesia)
  3. S.A. Nuhonni, Sp KFR (K) (Masyarakat Paliatif Indonesia Cabang Jakarta)
  4. Prof. dr. Laksono Trisnantoro, M.Sc. Ph.D (Staf Khusus Menteri Kesehatan bidang Ketahanan (Resiliency) Industri Obat dan Alat Kesehatan)
  5. dr.Kartika Widayati, SpPD KHOM (RSUP dr Sardjito)
  6. dr. Sri Mulatsih, MPH, SpA (K) (Direktur Pelayanan Medik, Keperawatan dan Penunjang RSUP Dr. Sardjito)
  7. Dr. dr. Probosuseno, Sp. PD, K-Ger, FINASIM, SE, MM (RSUP dr Sardjito)

MODERATOR:

Dr. dr. Maria. A. Witjaksono, MPALLC


TARGET PESERTA  

  1. Dokter Spesialis
  2. Dokter umum
  3. Perawat /Tenaga Kesehatan Lain
  4. Mahasiswa / Residen

TEMPAT KEGIATAN


SUSUNAN ACARA

Sabtu, 14 Mei 2022
Moderator: Dr. dr. Maria A. Witjaksono, MPALLC

Waktu Acara / Topik Narasumber / Penanggungjawab
07.45 – 08.00 Broadcasting pra webinar dan Pembukaan
08:00 – 08:15 Pengantar dan rangkuman webinar tahap 1 dr. Ronny Roekmito, M.Kes
08:15 – 09:00 Etika dan Hukum dalam Perawatan Paliatif Dr. dr. Darwito, SH, Sp.B (K) Onk


MATERI
09.00 – 09.45 Perawatan Paliatif Dalam Pendekatan Multidisiplin pada Tatalaksana di Bidang Onkologi Prof. Dr. dr. Aru W. sudoyo, Sp PD-KHOM, FINASIM


MATERI
09.45 – 10.30 Pendekatan Interdisiplin dalam Perawtan Paliatif oleh Tim multidisiplin dr. S.A. Nuhonni, Sp KFR (K)


MATERI
10.30 – 11.00 Komunikasi Terapeutik dr. Probosuseno, Sp. PD, K-Ger, FINASIM, SE, MM


MATERI
11.00 – 11.40 Diskusi dan Tanya-Jawab Moderator
11.40 – 11.50 Informasi ujian online dr. Endang Suparniati, M.Kes
11.50 – 12.00 Closing Remark Prof. dr. Laksono Trisnantoro,MSc, Ph.D
12:00 Penutup

VIDEO REKAMAN / LIVE STREAMING

UJIAN ONLINE BER-SKP

Peserta yang mendaftar dan ingin mendapatkan E-sertifikat ber-SKP IDI, IAKMI dan PPNI harus mengikuti ujian on-line setelah webinar series diselenggarakan disetiap tahapnya.

Formulir Pendaftaran: https://bit.ly/RegPaliatif2   

Leave a Reply

Your email address will not be published.