Reportase Perawatan Paliatif: Layanan Kesehatan Berkesinambungan, Holistik, Integratif dan Cost Effective

Reportase Kegiatan

PKMK FK-KMK UGM – Yogya. Alumni FK UGM Angkatan 1980 bekerjasama dengan Kagamadok dan RS Akademik UGM menyelenggarakan seminar daring “Perawatan Paliatif: Layanan Kesehatan Berkesinambungan, Holistik, Integratif dan Cost Effective”. Kegiatan ini terselenggara dalam rangka Dies Natalis FK – KMK UGM ke – 76, HUT RSA UGM ke – 10, HUT RSUP Dr. Sardjito ke – 46 dan HUT RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro ke – 96. Kurang lebih 300 peserta seminar berasal dari berbagai profesi mengikuti webinar ini.

Kegiatan diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, Hymne Gadjah Mada, Laporan Ketua Panitia yaitu dr. Ronny Roekmito, M.Kes kemudian sambutan dan pembukaan acara oleh Dirjen Yankes Kementrian Kesehatan R.I. Kegiatan ini sekaligus mengenang dua tahun kepergian Prof. dr. Iwan Dwiprahasto, M.Med.Sc, Ph.D yang telah berpulang.


Sesi pertama membahas “Kebijakan Layanan Kesehatan Paripuna” oleh Prof. dr. Abdul Kadir, PhD., Sp.THT-KL(K), MARS. Data BPJS Kesehatan pada 2020 menunjukkan bahwa penyakit jantung menjadi masalah kesehatan pertama di Indonesia. Penyakit ini membutuhkan perawatan paliatif sebesar 47,62% (WHO, 2020). Saat ini kebutuhan perawatan paliatif sangat tinggi baik di dunia maupun di Indonesia sendiri, namun data menunjukkan baru 1% pasien pasien yang memerlukan perawatan paliatif di Indonesia mendapatkan layanan ini. Dalam upata mengatasi permasalahan ini, perlu upaya peningkatan perawatan paliatif yang dilakukan melalui penguatan fasilitas kesehatan, peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM), pemanfaatan IT, dan penguatan sistem rujukan. Upaya peningkatan pelayanan paliatif tentunya juga harus didukung oleh regulasi. Kabar baik dari Kadir bahwa perawatan paliatif telah menjadi salah satu dari 7 kebijakan layanan kesehatan di Indonesia yang saat ini sedang dalam tahap revisi untuk memperbarui peraturan sebelumnya  berupa KMK Nomor 812 Tahun 2007 tentang Kebijakan Paliatif.

Materi Video

Sesi kedua membahas “Pelayanan Kesehatan Paliatif Lintas Profesi dengan Dukungan Telemedicine dan Pendanaan Yang Tepat” oleh Prof. dr. Laksono Trisnantoro, M.Sc. PhD. Staf khusus Menteri Kesehatan ini menyatakan kanker menjadi masalah kesehatan kedua setelah jantung di Indonesia. Kondisi ini membutuhkan dukungan pembiayaan, sarana prasarana, SDM kesehatan dan dukungan lainnya. Beberapa daerah di Indonesia sudah mempunyai dukungan yang baik, namun ada yang belum, sehingga perlu penguatan pelayanan multidisiplin, pendanaan untuk paliatif, dan penggunaan teknologi kesehatan dalam bentuk telemedicine. Penggunaan telehealth dalam perawatan di rumah paliatif dapat memberikan rasa aman pada pasien karena kemudahan akses ke profesional kesehatan. Namun, apakah penggunaan telehealth meningkatkan kualitas hidup pasien?. Hal tersebut memerlukan penelitian lebih lanjut untuk menyelidiki pengalaman menggunakan telehealth pada pelayanan paliatif.

Materi Video

Endang Suparniati M.Kes menambahkan bahwa pelayanan paliatif selama ini di RS menggunakan kode Z51.5, digunakan sebagai diagnosa utama maupun sekunder. Untuk pasien perawatan paliatif yang datang kembali dengan kondisi medis yang lain maka dikoding sesuai dengan penyakit yang mendasari pasien tersebut masuk ke FKRTL. Pelayanan paliatif bersumber dari BPJS Kesehatan untuk pasien rawat inap dan rawat jalan. Laksono menambahkan bahwa potensi pembiayaan dapat berasal dari filantropi, selain dari pemerintah. Filantropi penting untuk dikembangkan sebagai sumber pendanaan karena tradisi ini sudah ada sejak zaman colonial Belanda, sumber filantropi dapat berasal dari jamaah masjid, gereja ataupun agama lainnya dan orang kaya/konglomerat. Potensi pendanaan lainnya juga dapat bersumber dari peningkatan peran swasta melalui kegiatan tanggung jawab sosial perusahaan (Corporate Social Responsibility/CSR).


 Sesi ketiga membahas “Pengembangan Perawatan Paliatif di RSA sebagai Pusat Pelayanan dan Pusat Pendidikan” oleh Dr. dr. Darwito, SH, Sp.B (K) Onk. Mantan direktur RSUP Dr. Sardjito ini mengungkapkan bahwa  pelayanan paliatif dan home care harus memperhatikan keselamatan pasien. Pelayanan home care  dan pelayanan paliatif RSA dilakukan sebagai hasil pembelajaran penatalaksanaan COVID-19 di hotel milik UGM. Pendanaan home care saat ini menggunakan biaya mandiri pasien atau tidak ditanggung BPJS Kesehatan. Konsep home care RSA bekerja sama dengan Korea Selatan dan disebut “rumah sakit tanpa dinding”. Dua dari banyak manfaat home care yaitu mengurangi lama rawat inap serta mengurangi biaya.

Materi Video

Sesi diskusi dimoderatori oleh Dr. dr. Maria A. Witjaksono, MPALLC. Terdapat sekitar 10 peserta yang bertanya dan memberikan pendapat. Kesimpulan diskusi: 1) Pelayanan home care belum masuk dalam skema BPJS Kesehatan. Di DIY terdapat biaya Jamkesos untuk pelayanan home care melalui Puskesmas; sedang di Jakarta perawatan paliatif di layanan primer dilakukan bekerjasama dengan YKI (NGO) dan dinas kesehatan.  2) Pemerintah mempunyai anggaran terbatas, diharapkan perawatan paliatif dapat mengusahan dana dari sumber lain; 3) di Indonesia terbuka kesempatan pendanaan filantropi untuk membiayai home care; 4) Dalam INA CBG’s belum secara spesifik menyebutkan biaya untuk pelayanan paliatif; 5) Perlu  kajian biaya pelayanan paliatif untuk penyakit kanker oleh P2JK 6) Pelayanan home care harus terintegrasi dengan fasilitas kesehatan untuk menjaga mutu layanan kesehatan dan keselamatan pasien. 7) Dalam melaksanakan layanan paliatif hom ecare, tenaga kesehatan harus memiliki STR dan SIP di tempat institusi yang bertanggung jawab dalam layanan tersebut; 8) di RS perlu instalasi pelayanan paliatif dan home care, dengan tenaga setidaknya perawat dan dokter; 9) Penggunaan telemedicine berupa jejaring Academic Health System (AHS) sangat berpotensi untuk melayani pasien yang berada di daerah terpencil; 10) Sistem pengampuan fasilitas kesehatan untuk merujuk pasien pelayanan paliatif dan home care; 11) pelayanan paliatif dilakukan dalam bentuk lintas profesi dan lintas faskes; 12) pelayanan paliatif dan home care akan dapat mewujudkan efisiensi layanan kesehatan; 13) Perawatan paliatif di rumah bukan memindahkan RS di rumah. Pelayanan homecare paliatif harus dapat memberikan kenyamanan dan kehangatan di akhir kehidupan bersama keluarga.

Reporter:

Eva Tirtabayu Hasri S.Kep., MPH (Divisi Manajemen Mutu PKMK UGM)


Materi kegiatan silahkan KLIK DISINI


VIDEO REKAMAN

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *